namunterkadang kita sering sekali menggurutu dengan sesuatu yang telah pergi atau hilang dari diri kita,apa kita tidak sadar dengan hakikat keadaan dunia ini yag hanya titipan saja yang akan di mintai pertanggungjawabanya,,,oleh sebab itu marilah kita tumbuhkan sikap keiklasan ,kerelaan , keridhoan dengan semua yang telah pergi agar kita semuamendapatkan keutamaan yang tinggi di sisi Allah HaloPutri A Kakak bantu jawab ya. Jawaban untuk soal di atas adalah salah, karena ada malaikat-malaikat yang diberikan Allah tugas-tugas lain di samping bertasbih, seperti bertugas menyampaikan wahyu Allah SWT dan meniupkan roh ke dalam janin yakni malaikat Jibril, bertugas memberi rezeki kepada mahluk hidup yakni malaikat Mikail, dan sebagainya. Semuayang dimiliki semata-mata hanya titipan yang Allah berikan kepada hambanya, yang sewaktu-waktu akan diambil kembali. Maka dari itulah kita dianjurkan untuk gemar memberi terhadap sesama, Bahkan didalam surat Al-Baqarah, Allah swt bukan hanya melipat gandakan 10x, namun sampai 700x lipat setiap seorang menginfakkan hartanya dijalan Allah. Samahalnya dengan hidup seseorang yang hanya sementara, apapun bisa saja terjadi saat Allah SWT telah berkehendak. "Karena semua ini hanya titipan, termasuk hidup kita di dunia ini hanya sementara. hal 1 dari 3 halaman Halaman: 123selengkapnya Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini Sumber: BeritaSatu. Pembacablog setia ku pasti kalian sudah mengetahuinya kalau Semua yang ada di dunia ini seperti rejeki,jodoh,ujian, harta apapun itu hanya titipan allah swt tapi bagaimanapun juga kita gak bisa meminta lebih, kita punya segala galanya semata mata punya allah dan alangkah baiknya kita balikan lagi sama allah dengan/berupa sedekah kan lah sebagian harta yang kita punya walaupun sedikit dimata Your wealth and your children are but a trial, and Allah has with Him a great reward." "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar." (QS At-Taghabun: 15) Imam Syafi'i pernah bersyair: "Jangan kau risaukan malapetaka, karena semua musibah hanya sementara. EEGmd2Q. Tafsir ayat Al-Qur'an di bawah ini menegaskan bahwa semua yang ada di alam semesta itu milik Allah SWT. Berikut penjelasan tentang kutipan yang ada pada sebagian ayat QS. Al-Baqarah Ayat 284 لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ "Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. QS. Al-Baqarah 2 284 Ayat di atas setidaknya diulang-ulang di 16 tempat dalam al-Qur'an. Semua ayat tersebut menegaskan bahwa apa yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah SWT, tidak ada satu pun yang dimiliki oleh selain-Nya termasuk manusia. Kalaupun ada hak milik yang dimiliki oleh manusia, itu dengan pola istikhlaf saja; pinjaman, titipan, inventaris atau hak guna pakai, sebab di saat manusia meninggal, hak miliknya kembali kepada Allah SWT. Dalam ayat yang lain Al-Qur'an menegaskan bahwa manusia harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan menafkahkan sebagian dari harta milik dimana Allah telah menjadikan itu semua sebagai sebuah titipan /istikhla. QS. Al-Hadid 7. Kesalahan terbesar manusia yang enggan atau malas berinfaq di jalan Allah SWT adalah karena merasa harta yang dimilikinya adalah miliknya. Ia lupa bahwa harta itu hanya dititipkan saja oleh Allah kepadanya sementara. Suatu saat akan Allah tarik kembali, dan suatu hal yang sah-sah saja jika Sang Pemilik sebenarnya menghendaki agar harta tersebut dikelola sesuai yang diinginkan-Nya melalui Zakat, infaq dan shodaqoh. Terlebih faktanya itu tidak menghabiskan semua harta yang dititipkan kepadanya. Orang yang menyadari bahwa apa yang ada di dunia ini semuanya milik Allah juga tidak akan bersedih hati ketika musibah menimpanya. Ia malah akan berbahagia dengan kesabaran yang tinggi. Sebab ia sadar sepenuhnya bahwa dirinya dan semua yang dimilikinya semula tidak dia miliki, hanya Allah SWT kemudian memberinya titipan. Kalau kemudian hilang atau berkurang, itu berarti Allah SWT sebagai Sang Pemilik yang mengambilnya kembali. Seperti dijelaskan pada QS. Al-Baqarah 155-156. Seorang sahabat perempuan Umu Sulaim Ibundanya Anas Bin Malik dalam hal ini telah memberikan teladan yang amat bijak, seperti tergambar pada kisah dijelaskan pada riwayat sebuah Hadits. Ketika seorang putranya meninggal, ia mengurusnya dengan tenang. Di saat yang tidak jauh berselang, suaminya Abu Thalhah, pulang setelah beberapa hari berdagang ke tempat yang jauh. Ummu Sulaim pun menjamu dan melayani suaminya tidur sebagaimana biasanya seolah-olah tidak ada musibah yang sudah terjadi. Setelah Ummu Sulaim meyakini bahwa suaminya sudah hilang lelahnya, baru ia berkata "Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu jika ada seseorang yang menitipkan barang lalu ia mau mengambilnya kembali barang tersebut, bolehkah pihak yang dititipi barang tersebut menolak memberikannya?. Abu Thalhah dengan tegas menjawab Tentu tidak!. Dengan kata bijak Ummu Sulaim berkata Jika begitu, harapkanlah pahala dari Rabb atas kematian putramu". HR. Bukhori Muslim, Riyadlus Shalihin Bab Shabar. Demikian penjelasan QS. Al-Baqarah ayat 284 yang dilengkapi dengan kisah sejarah kesabaran Ummu Sulaim bersama suaminya atas kepergian putra mereka, dimana mereka berharap akan bertemu dengan anak yang baru saja meninggal di Surga Allah nanti. Semoga bermanfaat.

semua hanya titipan allah swt